Profil Desa

🏑 Profil Desa

Pada tahun 1912 Desa Motolohu adalah suatu kampung  yang kondisinya sangat memprihatinkan. Hal
ini disebabkan  oleh keadaan Desa
Motolohu yang pada waktu masih berupa Hutan belantara yang belum dikenal oleh
orang banyak seperti sekarang ini. Letak wilayah Desa Motolohu yang merupakan
salah satu Daerah aliran Sungai Randangan, sering kali merugikan serta
mendatangkan penderitaan yang berkepanjangan bagi Penduduk karena setiap musim
hujan, wilayah Desa Motolohu pada waktu itu menjadi sasaran utama dari  bencana Alam banjir  yang menyebabkan  munculnya berbagai macam penyakit diantaranya
Demam berdarah, Diare dan malaria. 

            Kondisi diatas  menjadi salah satu pertimbangan atau alasan
utama bagi orang – orang  untuk tidak mau
tinggal dan menetap di Desa Motolohu pada masa itu, terbukti hanya ada 3 ( Tiga
) Kepala Keluarga yang secara turun temurun tinggal  menetap dan mendiami Perkampungan Motolohu
dan hal ini berlangsung sampai berpuluh – puluh tahun.  Adapun mata pencaharian Penduduk Kampung
Motolohu pada waktu itu adalah mo mani bulotu ( membuat Perahu ) dan mo
tabo’o labiya
( Mengambil Sagu ) dari Pohon Rumbia
yang banyak tumbuh di rawa – rawa yang ada di sekitar Kampung Motolohu.

            Memasuki awal tahun 1920, Kampung
Motolohu mulai mengenal apa yang disebut Pemerintahan karena  atas inisiatif masyarakat yang ada pada waktu
itu  mulai melakukan Pemilihan Kepala
Kampung. Dan dalam Pemilihan yang dilaksanakan secara Musyawarah tersebut telah
memilih salah seorang Tokoh Masyarakat 
bernama  ARSYAD  TAWAA 
sebagai Kepala Kampung Motolohu yang pertama dengan Pusat
Pemerintahannya  berada di Desa Motolohu.        

            Pada awal tahun 1967 Desa Motolohu
mulai mengalami proses Asimilasi yang cukup signifikan. Pada masa ini Desa
Motolohu mulai  banyak didatangai oleh
orang – orang  yang bermaksud untuk
sekedar datang mencari nafkah bahkan banyak pula yang menetap dan tinggal di
Desa motolohu hingga sekarang. Golombang asimilasi yang sangat menonjol berasal
dari Kecamatan Bonepantai, yang Jumlahnya mencapai    62 % 
melampaui  jumlah Penduduk  asli yang jumlahnya hanya 27 %,  selebihnya  
masyarakat Pendatang lainnya yang berasal dari berbagai Daerah di
Gorontalo dan suku bangsa diluar Gorontalo, 
antara lain Jawa, Bugis, Minahasa, Bali dan lainnya yang seluruhnya
mencapai  11 %  dari jumlah Penduduk Desa Motolohu. Proses
Asimilasi ini sangat mempengaruhi pola hidup, tatanan Pergaulan  dan 
mata pencaharian masyarakat / Penduduk asli  yang ada masa itu. Pengaruh proses Asimilasi
pada pola hidup dan pergaulan masyarakat pada waktu itu  yang paling mendasar  adalah terbinanya satu suasana kehidupan yang
harmonis antara Penduduk asli dan masyarakat Pendatang 
sedangkan
untuk mata pencaharian, masyarakat Pendatang yang umumnya Petani  banyak 
memberikan
contoh atau pemahaman kepada penduduk asli 
tentang bagaimana cara bercocok tanam yang benar.         
           

Asal-usul Nama Desa Motolohu / Legenda Desa

Konon
pada  zaman dahulu tersebutlah seorang
pengembara tua yang sakti mandraguna bernama Ti Hilala. Beliau sering
mengembara dari suatu lembah  ke lembah
yang  lain  dan dari suatu Daerah ke daerah lainnya yang
belum pernah di kunjunginya.  Adapun pada
masa itu tak seorang pun yang mengetahui dari mana sang pengembara tersebut
berasal dan dimana dia tinggal. Alkisah pada masa itu semua mahluk hidup,
mahluk gaib  dan juga isi actori sangat
hormat dan segan kepadanya.  Hal ini
karena selain memiliki Ilmu Kesaktian yang sangat tinggi, Ti Hilala juga ber
prilaku yang suka menolong, menghormati, dan sikap walas asihnya kepada actor
manusia dan semua mahluk  Allah.

Pada suatu
hari dalam pegembaraannya Ti Hilla menyusuri Hulu sungai
Randangan dan bermaksud ke muaranya, namun ditengah perjalanannya situasi alam
yang  cerah tiba-tiba berubah mulai gelap
karena langit mendung pertanda hujan akan turun. Dan tak lama kemudian Hujan
pun turun dengan sangat deras. Dan secara spontan ti Hilala mencari tempat
untuk berlindung agar tidak basah oleh air hujan, kebetulan disekitar lembah
tersebut, terdapat sebuah Dangau yang 
ukurannya tidak terlalu besar tetapi cukup untuk tempat berlindung dari
hujan.  Setelah hujan reda ti Hilala
bermaksud untuk melanjutkan perjalananya, namun dia terpaksa mengurungkan
niatnya karena actor semua dataran yang ada dilembah itu digenangi oleh air
akibat banjir dan meluapnya air sungai Randangan,  padahal hujan deras yang baru reda tidak
berlangsung lama. Terdorong oleh rasa ingin tahunya ti Hilala mulai
melangkahkan kakinya dan berusaha menyelidiki actor penyebab terjadinya banjir
tersebut. Dan tidak berapa lama kemudian, tibalah ti Hilala pada suatu tempat
yang disebut Milango lo Bundo ( Muara yang terputus ) disebut
muara yang terputus karena ditempat ini aliran air Sungai Randangan terputus
serta berbelok kearah sebelah kanan dan membelah dataran / lembah yang tadi
sempat di singgahi oleh Ti Hilala, 
selanjutnya  bermuara di Tanjung
Panjang yang berada di Desa Imbodu sekarang.

Ti hilala pun
kemudian berkesimpulan bahwa yang menyebabkan aliran air Sungai berbelok dan
tidak dapat mengalir lurus seperti sekarang ini karena adanya Gunung batu yang
berdiri kokoh ditengah – tengah daerah aliran sungai sehingga menghalangi air
Sungai untuk mengalir lurus. Dan itu berarti bila air sungai meluap walau tidak
terlalu besar maka akan mengakibatkan banjir di sekitar lembah atau dataran
yang ada di  Milango lo Bundo. Untuk itu
satu-satunya cara agar air sungai tersebut bias mengalir lurus dan tidak
berbelok lagi,  adalah dengan membelah
gunung batu tersebut. Dan untuk dapat membelah Gunung batu tersebut tidaklah
semudah yang dibayangkan, karena selain gunung batu tersebut memiliki  ketinggian dan Diameter  yang 
cukup besar, juga batuan yang ada didalamnya sangat keras.

 Sebagai seorang yang memiliki tingkat
kesaktian yang sangat tinggi, sambil memohon Ridho dari Allah SWT, serta
terdorong oleh rasa yang ingin menolong sekaligus menyelematkan

































Daerah disekitaran Milango
lo Bundo, Ti Hilala mengerahkan segala kekuatannya untuk biasa membelah Gunung
batu tersebut. Dan akhirnya Gunung batu tersebut bisa dibelah oleh Ti Hilala
hanya dengan menarik Bututu lo Pomama ( Kantong  tempat menyimpan sirih ) diatas
Gunung batu tersebut. Dan begitu Gunung batu tesebut terbelah air Sungai pun
langsung menorobos masuk dan mengalir dengan derasnya diantara Gunung batu yang
sudah menganga lebar. Kejadian tersebut sangat menarik perhatian orang-orang
yang berada disekitar milango lo bundo pada saat itu, dan kebanyakan dari
mereka berkata β€œ Ma Tilumolohu   ( sudah mengalir ) dan yang sebahagian
lagi ada yang berkata bahwa air yang melewati Gunung batu dan sudah dibelah
oleh Hilala tersebut β€œ Motolohu ( arusnya  deras ).  Akhirnya sejak saat itu kata β€œMotolohu
diabadikan oleh orang-orang untuk menyebut lembah atau dataran ( sekarang Desa
Motolohu )  yang dahulu disinggahi
oleh  β€œ Ti Hilala.

VISI :

Visi
merupakan rumusan umum untuk mengenal keadaan yang diinginkan pada akhir
periode perencanaan yang didalamnya berisi suatu gambaran tentang keadaan masa
depan desa, cita dan citra yang ingin diwujudkan dan dibangun melalui proses
refleksi dan proyeksi yang digali dari nilai-nilai luhur yang dianut oleh
seluruh komponen stakeholders. 
β€œ MENJADIKAN DESA MOTOLOHU
DESA CERDAS β€œ 
( Cepat
tanggap, Ekonomi maju, Religius,
Damai tenteram, Aman
dan Sejahtera )

MISI :

Misi merupakan rumusan umum mengenai upaya-upaya yang akan dilaksanakan
untuk mewujudkan visi. Misi berfungsi sebagai pemersatu gerak, langkah dan
tindakan yang nyata bagi segenap komponen penyelenggara pemerintahan tanpa
mengabaikan mandate yang diberikannya. Adapun 
Misi pembangunan desa Motolohu
untuk 8 tahun kedepan adalah sebagai berikut :

1. Mewujudkan
Tata Kelola Penyelenggaran Pemerintahan Desa, sesuai arah Kebijakan yang
  Transparan dan Akuntabel. ( Cepat Tanggap ).

2. Meningkatkan
Pola Kerja Sama kelembagaan Desa dengan Pemerintah Desa. ( Cepat Tanggap )

3. Meningkatkan
Kualitas Sumber Daya Manusia dan Sumber Daya Alam Desa.
( Ekonomi maju ).

4. Mendorong
Peningkatan Potensi Desa
( Ekonomi maju )

5. Meningkatkan
dan Mengembangkan Produktivitas Perekonomian Masyarakat Desa ( Ekonomi maju )

6. Meningkatkan
Kwalitas Pembangunan Infrastruktur Desa. ( Ekonomi maju
).

7 Mengamalkan
/ Melestarikan Nilai – Nilai Agama dan adat Budaya Masyarakat Desa yang
Religius. ( Religius )

8. Menumbuhkembangkan Partisipasi Masyarakat dalam
Meningkatkan Keamanan dan Ketertiban.
( Damai, Tenteram & Sejahtera )

9. Menumbuhkan Kegotong Royongan dalam Bermasyarakat. ( Damai, Tenteram & Sejahtera ).

10.  Mewujudkan Perlindungan Sosial Masyarakat Desa. (
Damai, Tenteram & Sejahtera ).


Kondisi
Umum Desa

 

            Desa Motolohu Memiliki Luas
Wilayah 309 Ha dan Memiliki 5 Dusun yaitu :

1) Dusun  Huluwone

2) Dusun  Tihungo  Utara

3) Dusun  Tihungo  Selatan

4) Dusun  Sigatange  Utara

5) Dusun  Sigatange  Selatan

 

1.    
Letak dan Kondisi Geografis Desa Motolohu antara lain terdiri
dari :

a.     Posisi Astronimis

Berdasarkan Garis Lintang dan Garis
Bujur, Desa Motolohu berada diantara 00 28’17” – 00 35’56”LU dan 122 59’44” –
123 05’59”BT.

 

b.     Posisi Geografis

Posisi Geografis Desa Motolohu adalah :

Sebelah Utara      
: berbatasan dengan Desa Manunggal Karya

Sebelah Timur     
: berbatasan dengan Desa Omayuwa

Sebelah Selatan   
: berbatasan dengan Desa Motolohu Selatan

Sebelah Barat      
: berbatasan dengan Desa Patuhu

 

c.     Topografi, antara lain terdiri
dari:

a.    
Kemiringan
Lahan

Desa Motolohu memiliki Kemiringan Lahan  rata – rata ( Datar : 309 Ha )

b.    
Ketinggian lahan

















































Ketinggian di atas permukaan laut
(rata-rata) 
14 m

Potensi
Pengembangan Wilayah